Pekanbaru- Praktisi pendidikan sekaligus Pembina
Yayasan di Politeknik Pengadaan Nasional (Polteknas) Pekanbaru, Dr
Buyung Kurniawan mengatakan persoalan organisasi pada kampus baru
memerlukan konsep dan proses pembentukan sistem, budaya kerja, dan tata
kelola yang berintegritas.
"Karena itu persoalan organisasi
pada kampus baru ini sekaligus berkaitan dengan kepemimpinan, budaya
organisasi, pengambilan keputusan, perubahan organisasi, motivasi kerja,
disiplin kerja, kinerja karyawan, komunikasi organisasi, konflik kerja,
dan koordinasi antarbagian," kata Dr. Buyung Kurniawan kepada
frisnews.com di Pekanbaru, Minggu.
Telaah tersebut
disampaikannya terkait dirinya sebagai mahasiswa program studi
Magister Manajemen Sekolah Pascasarjana Unilak, Riau, dengan dosen
pembimbing Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M, dalam mata kuliah Teori
Manajemen & Organisasi.
Menurut Dr Buyung Kurniawan
persoalan organisasi pada kampus baru perlu dibaca sebagai proses
pembentukan sistem, budaya kerja, dan tata kelola yang berintegritas.
"Politeknik
Pengadaan Nasional sebagai institusi baru menghadapi tantangan dalam
menyelaraskan visi, standar operasional prosedur (SOP), nilai P.A.T.E.N,
integritas, dan praktik kerja harian. Tantangannya adalah memastikan
nilai profesional, aktif, tanggung jawab, energik, dan nasionalisme
tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi perilaku nyata dalam
proses akademik, administrasi, dan tata kelola pengadaan barang/jasa,"
katanya.
Isu ini, katanya menekankan, perlu disampaikan secara
hati-hati karena tujuannya bukan mencari kesalahan, melainkan membangun
perbaikan organisasi.
Sementara itu yang menjadi akar masalah
tentu berkaitan pertama sistem penghargaan dan sanksi yang belum jelas,
kedua SOP dan mekanisme kerja yang masih perlu disempurnakan, ketiga
pengawasan dan umpan balik kinerja yang belum konsisten.
Keempat,
pembentukan perilaku kerja berintegritas yang masih membutuhkan
keteladanan dan pembelajaran dan kelima keterbatasan pengetahuan
organisasi karena kampus masih baru.
"Kondisi tersebut dapat
menimbulkan kesenjangan antara visi dan implementasi, rendahnya
disiplin, lemahnya rasa memiliki, serta risiko penyimpangan dalam bidang
pengadaan barang/jasa," katanya.
Ia menjelaskan dampak yang
muncul dari permasalahan tersebut yakni kualitas kerja sivitas
akademika belum merata, lulusan berisiko belum memiliki kompetensi dan
integritas yang kuat, kepercayaan mitra dapat menurun jika tata kelola
tidak berjalan baik, konflik internal dapat muncul akibat sistem kerja
yang belum jelas, dan reputasi institusi dapat terganggu apabila nilai
integritas tidak tertanam dalam perilaku organisasi.
Untuk
memperkuat gagasan tersebut, Dr. Buyung Kurniawan mengaitkan persoalan
tersebut dengan Control Theory, Social Cognitive Theory, Structural
Contingency Theory, dan Knowledge-Based Theory atau teori kontrol,
teori kognitif sosial, teori kontingensi struktural, dan teori berbasis
pengetahuan.
"Teori kontrol digunakan untuk memahami pentingnya
standar kinerja, monitoring, umpan balik, dan tindakan korektif agar
standar operasional prosedur, penghargaan, sanksi, serta disiplin kerja
berjalan konsisten. Sedangkan teori kognitif sosial mencermati perilaku
berintegritas dapat dibentuk melalui pembelajaran sosial, keteladanan
pimpinan, pengamatan terhadap perilaku rekan kerja, serta penguatan atas
perilaku yang sesuai nilai organisasi," katanya.
Berikutnya
teori kontingensi struktural, menunjukkan bahwa struktur, prosedur, dan
pembagian kewenangan Polteknas harus disesuaikan dengan kondisi sebagai
kampus baru yang bergerak di bidang pengadaan barang/jasa yang menuntut
transparansi dan akuntabilitas.
Sedangkan teori berbasis
pengetahuan, menekankan bahwa pengetahuan tentang PBJ, etika, SOP,
regulasi, dan praktik akademik perlu dikelola, dibagikan, dan
dilembagakan agar tidak hanya bergantung pada individu tertentu.
Solusi
yang paling realistis, kata Dr. Buyung Kurniawan lagi, perbaikan perlu
dilakukan secara bertahap melalui penyusunan SOP yang jelas dan mudah
dipaham, penerapan sistem penghargaan dan sanksi yang adil, penguatan
monitoring, evaluasi, dan umpan balik kinerja, keteladanan pimpinan
dalam menerapkan nilai P.A.T.E.N dan integritas.
"Pembentukan
forum berbagi pengetahuan mengenai PBJ, etika, dan tata kelola kampus,
serta penyesuaian struktur kerja agar sesuai dengan kebutuhan institusi
baru. Solusi tersebut perlu dijalankan dengan komunikasi yang baik,
tidak memojokkan pihak tertentu, dan dapat diterima oleh seluruh pihak
yang terlibat," kata Dr. Buyung.
Dr. Chandra, S.T., M.M sebagai
masyarakat, praktisi, dan peneliti ilmu manajemen, memandang bahwa
gagasan Dr. Buyung Kurniawan dinilai menjadi lebih kuat ketika dikaitkan
langsung dengan teori-teori organisasi dalam buku Miles.
Ia
menilai bahwa Control Theory membantu memastikan standar dan pengawasan
berjalan, Social Cognitive Theory menjelaskan pentingnya teladan dan
pembelajaran perilaku, Structural Contingency Theory menekankan
kesesuaian struktur dengan kebutuhan kampus baru, sedangkan
Knowledge-Based Theory menegaskan pentingnya pengelolaan pengetahuan PBJ
dan integritas.
"Dengan kerangka tersebut, Polteknas dapat
membangun budaya organisasi yang bukan hanya simbolik, tetapi juga nyata
dalam sistem, perilaku, pembelajaran, dan tata kelola," demikian Dr.
Chandra.
berita
Dr.Buyung Kurniawan: Organisasi kampus baru perlu membangun konsep budaya kerja berintegritas
10 August 2026
Berita Lainnya
Berita PKKMB
04 September 2026
Mahasiswa baru Polteknas senam bersama semarakkan PKKMB hari ketiga
Senam bersama dan aktraksi lempar tepung warna warni semarakkan PKKMB hari ketiga
Pemberitaan
03 September 2026
Polteknas bekali mahasiswa baru tentang pemahaman akademik
Pekanbaru – Hari kedua PKKMB Polteknas TA 2026/2027, Rabu (2/9/2026)